Di tengah hamparan hutan dan laut Pulau Salawati, Kabupaten Sorong, suara mesin rig pengeboran terus berdengung.
Di sana menjadi saksi perjalanan industri migas selama hampir satu abad, para pekerja yang tetap bergantian menjalankan tugas, menembus lapisan bumi demi menjaga pasokan energi bagi masyarakat.
Bagi sebagian orang, usia hampir 100 tahun identik dengan penurunan produktivitas.
Namun, anggapan itu belum berlaku bagi Lapangan Salawati.
Di balik statusnya sebagai lapangan migas tua (brownfield), kawasan ini justru kembali menunjukkan potensi yang masih menjanjikan.

Ardi
Hal itu disampaikan Field Manager Pertamina EP Papua Field, Ardi, saat meninjau pengeboran Rig PDSI 11.2 di Pulau Salawati, Rabu (29/7/2026).
Menurutnya, Lapangan Salawati hingga kini masih memiliki peluang besar meningkatkan produksi minyak nasional yaitu program pengeboran sumur pengembangan.
“Lapangan berusia hampir 100 tahun ini bukan berarti sudah habis. Justru masih mampu memberikan tambahan produksi melalui pengeboran pengembangan,” ujarnya.
Saat ini, Pertamina EP Papua Field menjalankan program pengeboran lima sumur pengembangan di Lapangan Salawati.

Tiga sumur telah selesai dibor dan dinyatakan berhasil, sementara sumur keempat, SLW-F3, memasuki hari ke-35 pengeboran dengan target penyelesaian pada awal Agustus 2026.
Keberhasilan tiga sumur sebelumnya menjadi catatan penting.
Sumur Charlie yang semula ditargetkan menghasilkan sekitar 500 barel minyak per hari ternyata mampu memproduksi sekitar 1.200 barel per hari.
Sumur SLW-C4X menghasilkan sekitar 1.014 barel minyak per hari, sedangkan SLW-F2X mencapai sekitar 623 barel per hari.
Untuk sumur SLW-F3, perusahaan menargetkan tambahan produksi sekitar 350 barel minyak per hari.
Pertamina berharap hasilnya kembali melampaui target sebagaimana sumur-sumur sebelumnya.

Lapangan Salawati kini menjadi penyumbang utama produksi Pertamina EP Papua Field.
Dari total produksi sekitar 2.000 barel minyak per hari, sekitar 1.500 barel berasal dari lapangan ini atau sekitar 75 persen dari keseluruhan produksi.
Seluruh minyak mentah yang dihasilkan kemudian dikirim ke Kilang RU VII Kasim untuk diolah menjadi berbagai jenis bahan bakar minyak (BBM) yang didistribusikan bagi masyarakat di wilayah Papua.
Dengan demikian, peningkatan produksi di Salawati tidak hanya berdampak pada sektor hulu migas, tetapi juga berkontribusi terhadap ketersediaan energi di Indonesia Timur.
Di balik capaian tersebut, pekerjaan di Papua tidak berlangsung tanpa tantangan.
Lokasi operasi yang terpencil, akses logistik yang terbatas, kondisi cuaca yang berubah cepat, hingga keterbatasan jaringan komunikasi menjadi bagian dari keseharian para pekerja di lapangan.
Menurut Ardi, seluruh kebutuhan operasional harus direncanakan secara matang sejak awal.
Keterlambatan satu material saja dapat menghambat seluruh proses pengeboran karena distribusi menuju Papua membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan wilayah lain di Indonesia.


Di balik deru mesin pengeboran dan tantangan bekerja di tengah wilayah terpencil Papua, ada cerita para putra daerah yang turut mengambil bagian dalam menjaga produksi migas nasional.
Salah satunya adalah Romario Sabarofek (24), pemuda asli Pulau Salawati yang kini bekerja sebagai mut boy di bagian sirkulasi lumpur (mud circulation) pada kegiatan pengeboran (drilling).
Meski tidak memiliki latar belakang pendidikan di bidang migas, tekad untuk belajar membawanya bergabung di industri tersebut.
Romario mengaku telah hampir satu tahun bekerja bersama Pertamina melalui perusahaan kontraktor.
Selama itu, ia berpindah dari lokasi pengeboran C4, kemudian E6, F2, hingga kini bertugas di sumur F3.
“Di pertamina saya bisa mengembangkan karir dan mendapatkan banyak ilmu, apalagi saya menyukai tantangan baru, utu sebabnya saya bergabung di dunia drilling,” ujarnya.
Kesempatan bekerja di industri migas itu diperolehnya setelah mencoba melamar dan belajar langsung dari para pekerja yang lebih dahulu berpengalaman di lapangan.
“Awal mulanya saya belajar dari kakak yang sudah lebih dahulu bekerja di rig, saya belajar pelan-pelan cara kerjanya hingga akhirnya saya bisa bergabung,” katanya sambil tersenyum bahagia.
Sebagai anak asli Salawati, Romario mengaku bangga dapat ikut mengelola sumber daya alam yang berasal dari tanah kelahirannya.
“Saya anak asli Salawati sangat bangga bisa ikut bekerja dan mengelola hasil yang ada disini, itu menjadi kebanggan tersendiri bagi saya,” ungkapnya.
Ia berharap ke depan dapat terus mengembangkan kemampuan di sektor migas dan memahami lebih dalam sistem pengeboran yang diterapkan di Lapangan Salawati.
Saat ini Romario masih berstatus sebagai pekerja kontraktor, namun ia berharap dapat terus mengembangkan kariernya seiring bertambahnya pengalaman di industri hulu migas.


Selain meningkatkan produksi minyak, Pertamina EP Papua Field juga menyiapkan pengembangan lapangan gas di Klamono yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2027.
Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat pasokan energi di Papua Barat Daya sekaligus memperluas kontribusi sektor migas terhadap pembangunan daerah.
Dalam menjalankan operasinya, perusahaan menyatakan terus melibatkan pemerintah daerah, Dewan Adat, serta marga-marga pemilik hak ulayat pada setiap tahapan penting kegiatan.
Pendekatan tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga hubungan dengan masyarakat adat di sekitar wilayah operasi.
Di Pulau Salawati, usia tua ternyata bukan akhir dari sebuah perjalanan.
Lapangan migas yang telah beroperasi selama puluhan tahun itu masih menyimpan harapan baru.
Melalui teknologi, strategi pengeboran, serta kerja para pekerja di lapangan, Salawati terus membuktikan bahwa dari timur Indonesia, energi untuk negeri masih terus mengalir.
