Papuaverse.id, BINTUNI – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi momentum bagi masyarakat untuk kembali merefleksikan makna kemerdekaan, termasuk bagi Orang Asli Papua (OAP).
Anggota Majelis Rakyat Papua Barat (MRPB) Pokja Adat Kabupaten Teluk Bintuni, Eduard Orocomna, S.T, menegaskan kemerdekaan tidak boleh hanya dimaknai sebagai seremoni tahunan.
Menurut Eduard, kemerdekaan sejati harus diwujudkan melalui keadilan, kesejahteraan, serta perlindungan terhadap hak-hak masyarakat adat.
“81 tahun Indonesia merdeka adalah momentum untuk kita merefleksikan perjuangan para pendahulu. Kemerdekaan sejati bukan hanya lepas dari penjajahan, tetapi juga merdeka dari kemiskinan, ketidakadilan, dan hilangnya hak-hak masyarakat adat atas tanah ulayat, budaya, dan identitas,” ujar Eduard di Kantor MRPB Pokja Adat Teluk Bintuni, Selasa (12/8/2026).
Ia mempertanyakan sejauh mana kemerdekaan dan keadilan telah dirasakan seluruh rakyat Indonesia, khususnya OAP yang berada di wilayah pedalaman dan kampung-kampung.
“Kemerdekaan Republik Indonesia yang kita peringati setiap 17 Agustus seharusnya menjadi momentum untuk bertanya secara jujur kepada diri kita sendiri: apakah kemerdekaan, keadilan dan kemakmuran sudah benar-benar dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia, termasuk Orang Asli Papua?” katanya.
Otsus Harus Berpihak kepada OAP
Eduard menilai keberadaan Undang-Undang Otonomi Khusus (Otsus) Papua merupakan bentuk pengakuan negara terhadap kekhususan Papua, baik dari sisi sejarah, budaya maupun hak-hak dasar masyarakat asli Papua.
“Otsus lahir bukan tanpa alasan. Negara mengakui bahwa Papua punya kekhususan. Karena itu implementasinya juga harus istimewa dan berpihak,” tegasnya.
Di tengah meningkatnya investasi dan pengelolaan sumber daya alam di Papua dan Papua Barat, Eduard mengingatkan agar masyarakat asli Papua tidak menjadi penonton di atas tanah leluhurnya sendiri.
Ia menegaskan perjuangan OAP bukan untuk memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), melainkan memastikan kehadiran negara memberikan keadilan bagi masyarakat.
“OAP merdeka dalam bingkai NKRI bukan berarti ingin memisahkan diri dari Indonesia. Justru sebaliknya. Kami memilih tetap bersama NKRI karena kami percaya Indonesia adalah rumah bersama,” ujarnya.
Eduard berharap masyarakat OAP mendapatkan akses pendidikan, pelayanan kesehatan, kesempatan kerja, ruang ekonomi bagi pengusaha asli Papua, serta perlindungan terhadap hak ulayat.
Jangan Berhenti di Upacara
Eduard juga meminta tema HUT ke-81 RI, “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”, tidak berhenti sebagai slogan maupun seremoni.
Menurut dia, kedaulatan, keadilan dan kemakmuran harus benar-benar dirasakan masyarakat hingga tingkat kampung.
“Jangan sampai kemerdekaan hanya terlihat megah saat upacara dan pengibaran bendera Merah Putih. Sementara di sisi lain, keadilan belum sepenuhnya hadir dalam kehidupan masyarakat adat,” katanya.
Ia menyoroti masih adanya anak-anak OAP yang kesulitan mendapatkan pendidikan, masyarakat yang harus menempuh perjalanan jauh untuk memperoleh pelayanan kesehatan, serta persoalan tanah ulayat yang membutuhkan kepastian hukum dan perlindungan.
Karena itu, Eduard meminta masyarakat hukum adat dilibatkan sebagai subjek pembangunan, bukan sekadar menjadi objek pembangunan atau proyek.
“Libatkan kami sejak perencanaan, pelaksanaan, sampai pengawasan,” tegasnya.
Kemerdekaan Harus Berarti Kesejahteraan
Memasuki 81 tahun kemerdekaan Indonesia, Eduard menyebut masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan untuk mewujudkan keadilan sosial.
“Kemerdekaan sejati itu ketika perut tidak lapar, anak bisa sekolah, orang sakit bisa berobat, tanah adat aman, dan budaya dihargai. Itu baru namanya merdeka,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya peran masyarakat adat dalam menjaga alam, budaya dan identitas bangsa.
Menurutnya, pembangunan di Papua harus berjalan seiring dengan perlindungan terhadap masyarakat adat dan lingkungan.
Tegaskan Komitmen Jaga NKRI
Di akhir pernyataannya, Eduard kembali menegaskan komitmen masyarakat adat Teluk Bintuni untuk menjaga keutuhan NKRI.
“NKRI harga mati. Itu komitmen kami. Kami lahir, besar, dan hidup di tanah ini sebagai bagian dari Indonesia. Kami cinta Indonesia,” katanya.
Namun, kecintaan terhadap Indonesia, lanjut dia, harus berjalan bersama dengan perjuangan mewujudkan keadilan bagi OAP.
“Indonesia yang berdaulat, adil dan makmur yang kita cita-citakan adalah Indonesia yang tidak meninggalkan satu pun rakyatnya. Termasuk Orang Asli Papua di tanah leluhurnya sendiri,” pungkas Eduard Orocomna, S.T.






