Banyak Orang Salah Mengenal Papua
Cerita dari Pelosok Papua
Sa bukan Orang Asli Papua. Sa pu kulit putih, sa pu rambut lurus. Tapi sa lahir dan besar di tanah Papua.
Sejak kecil, sa sudah mengenal kehidupan di tanah ini.
Sa tumbuh bersama orang-orang Papua, bermain bersama, makan bersama, tertawa bersama, sampai akhirnya sa sadar kalau Papua bukan lagi sekadar tempat sa lahir, tapi rumah yang membentuk sa menjadi seperti sekarang.
Sampai hari ini, masih banyak orang di luar Papua yang melihat tanah ini dari kejauhan.
Dong dengar cerita dari media sosial, dari orang lain, atau dari berita yang kadang hanya memperlihatkan sisi buruknya saja.
Akhirnya, banyak yang berpikir orang Papua itu keras, pemarah, bahkan berbahaya.
Padahal, sa yang hidup di sini justru melihat kenyataan yang berbeda.
Papua mengajarkan sa tentang kasih sayang yang mungkin sulit sa temukan di tempat lain.
Sa memang bukan Orang Asli Papua. Tapi sa dibesarkan oleh sebuah keluarga dari salah satu marga Papua.
Dong tidak pernah melihat sa sebagai orang asing. Dong terima sa dengan tangan terbuka. Dong anggap sa anak sendiri. Dong didik sa, dong jaga sa, dan dong kasih sa kasih sayang seperti darah daging sendiri.
Sampai hari ini, kalau sa pulang, dong selalu sambut sa dengan senyum.
Tidak pernah ada pertanyaan tentang warna kulit atau asal-usul. Yang ada hanya kalimat sederhana.
“Su datang kah? Mari masuk dulu.”
Kalimat yang sederhana, tapi penuh kehangatan.
Bahkan bukan cuma keluarga yang membesarkan sa. Banyak orang yang baru kenal sa pun selalu menghargai sa.
Kalau sa datang ke kampung, dong pasti ajak makan. Kalau malam mulai larut, dong bilang lebih baik menginap daripada pulang sendiri. Kalau ada acara adat, dong juga ajak sa ikut duduk bersama.
Sa merasa tidak pernah dibedakan.
Karena itu, setiap kali ada orang yang bilang masyarakat Papua tidak bisa menerima pendatang, sa hanya bisa tersenyum.
Mungkin dong belum pernah datang ke sini.
Suatu hari sa pernah berbincang dengan seorang teman yang merupakan Orang Asli Papua.
Dia bilang, “Ko tau tidak? Kadang torang sedih.”
Sa tanya, “Kenapa?”
Dia jawab pelan, “Karena banyak orang kulit putih lihat torang sebelah mata. Dong pikir torang ini jahat. Dong pikir torang tidak bisa hidup berdampingan.”
Waktu dengar itu, sa langsung terdiam.
Sa bisa lihat kesedihan di wajahnya.
Dia lalu melanjutkan, “Padahal torang di Papua cuma mau berteman. Torang senang kalau orang datang baik-baik. Torang hormati orang yang hormati torang.”
Kalimat itu sederhana, tapi sangat dalam maknanya.
Memang benar.
Selama sa hidup di Papua, sa belajar satu hal yang tidak pernah berubah.
Kalau kam datang dengan hati yang baik, masyarakat Papua akan menerima kam dengan hati yang jauh lebih baik.
Dong tidak lihat kam dari warna kulit.
Dong tidak lihat kam orang asli atau bukan.
Dong lihat bagaimana kam memperlakukan sesama manusia.
Kalau kam hormati dong, dong akan hormati kam berkali-kali lipat.
Kalau kam datang dengan kasih, dong balas dengan kasih.
Kalau kam anggap dong keluarga, dong juga akan anggap kam keluarga.
Mungkin itulah yang tidak semua orang tahu tentang Papua.
Papua memang punya tantangan. Papua juga punya masalah, sama seperti daerah lain di Indonesia. Tapi bukan berarti semua orang Papua harus dinilai sama.
Sa sudah terlalu banyak melihat kebaikan di tanah ini.
Sa melihat mama-mama Papua yang tetap tersenyum walaupun harus berjalan jauh menjual hasil kebun.
Sa melihat bapak-bapak yang bekerja keras demi anak-anaknya.
Sa melihat anak-anak kecil yang tertawa lepas walaupun hidup dengan segala keterbatasan.
Sa melihat tetangga yang datang membantu tanpa diminta ketika ada keluarga yang sedang berduka.
Sa melihat orang-orang berbagi makanan meski persediaan mereka tidak banyak.
Hal-hal seperti ini mungkin tidak pernah masuk berita.
Tapi justru itulah wajah Papua yang sesungguhnya.
Papua bukan hanya tentang konflik.
Papua bukan hanya tentang stigma.
Papua adalah tentang manusia-manusia yang punya hati besar.
Hari ini, sa hanya ingin titip satu pesan untuk teman-teman di Indonesia bagian barat.
Jangan mengenal Papua hanya dari cerita orang lain.
Datanglah.
Duduklah bersama masyarakatnya.
Mari makan papeda dengan makan kasbi bersama mereka.
Dengar cerita hidup mereka.
Rasakan bagaimana dong menerima tamu.
Barulah kam akan mengerti bahwa Papua tidak seburuk yang sering dibayangkan.
Sa bersyukur dilahirkan dan dibesarkan di tanah ini.
Walaupun sa bukan Orang Asli Papua, sa tidak pernah merasa sendiri.
Papua sudah mengajarkan sa arti keluarga.
Papua mengajarkan sa arti menghargai sesama.
Dan Papua membuktikan kepada sa bahwa persaudaraan tidak pernah ditentukan oleh warna kulit, rambut lurus atau keriting, maupun asal-usul seseorang.
Persaudaraan lahir dari hati yang mau menerima.
Itulah Papua yang sa kenal.
Itulah Papua yang sa cintai.
Tabuni Family❤
Salam hangat dari Papua😊





