Papuaverse.id, FAKFAK – Ketua Panitia Peringatan 666 Tahun Masuknya Agama Islam di Tanah Papua, Wahidin Puarada, mengajak seluruh masyarakat Fakfak tanpa memandang suku dan agama untuk bersama-sama menyukseskan rangkaian kegiatan yang akan mencapai puncaknya pada 8 Agustus 2026.
Ajakan itu disampaikan Wahidin di sela pelaksanaan hari ketujuh Lomba Islami yang digelar di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Jalan Reklamasi Fakfak, Selasa (21/7/2026).
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian peringatan yang telah dibuka secara resmi oleh Bupati Fakfak, Samaun Dahlan, pada 15 Juli 2026.
Menurut Wahidin, keberhasilan peringatan 666 tahun masuknya Islam di Tanah Papua bukan hanya menjadi tanggung jawab panitia, tetapi seluruh masyarakat Fakfak.
“Peringatan 666 Tahun Masuknya Agama Islam di Tanah Papua adalah kegiatan kita bersama. Saya mengimbau seluruh masyarakat Fakfak untuk hadir dan menjadi bagian dari sejarah ini,” tegas Wahidin kepada awak media.
Ia menjelaskan, panitia hanya bertugas memfasilitasi dan menyiapkan pelaksanaan kegiatan, sedangkan kesuksesannya bergantung pada dukungan seluruh elemen masyarakat.

Wahidin mengajak seluruh warga, mulai dari wilayah Karas Pulau Tiga hingga Wamosan Tomage, untuk hadir dan menunjukkan semangat kebersamaan yang selama ini menjadi ciri khas Kabupaten Fakfak.
Menurutnya, sejarah masuknya Islam di Tanah Papua tidak dapat dipisahkan dari Kabupaten Fakfak.
Berdasarkan hasil penelitian yang menjadi rujukan panitia, agama Islam pertama kali masuk melalui Pulau Gaar, sehingga momentum ini menjadi bagian penting dari sejarah yang harus dijaga bersama.
Ia menegaskan, peringatan tersebut bukan hanya milik umat Islam, tetapi juga menjadi simbol kerukunan masyarakat Fakfak yang hidup dalam semangat falsafah Satu Tungku Tiga Batu.
“Yang dilakukan para leluhur telah membuktikan bahwa keberagaman bukan alasan untuk terpecah, tetapi menjadi kekuatan untuk bersatu. Karena itu, kegiatan ini bukan hanya dihadiri umat Islam, tetapi seluruh masyarakat Fakfak,” ujarnya.
Untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, panitia melakukan sosialisasi hingga ke tingkat RT, RW, dan distrik.

Selain itu, Wahidin juga mengaku telah bertemu langsung dengan sejumlah pimpinan gereja, di antaranya Sinode GPI, Persekutuan GKI, dan Dewan Paroki, guna mengajak seluruh umat ikut menyukseskan peringatan tersebut.
Menurutnya, ajakan tersebut mendapat sambutan positif.
Bahkan sejumlah pimpinan gereja menyatakan siap menggerakkan jemaat mereka sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai persaudaraan yang telah diwariskan para leluhur Fakfak.
Panitia menargetkan puluhan ribu masyarakat menghadiri acara puncak.
Salah satu upaya yang dilakukan ialah melibatkan 233 peserta lomba Islami yang diperkirakan akan menghadirkan hampir 4.000 orang bersama keluarga dan pendamping mereka.
Wahidin menilai keterlibatan anak-anak dalam berbagai perlombaan bukan sekadar ajang kompetisi, tetapi menjadi proses membangun karakter dan rasa percaya diri generasi muda.
“Kami ingin anak-anak sejak kecil merasakan berdiri di hadapan para pemimpin daerah dan tamu-tamu penting. Dari situ mental mereka dibentuk untuk menjadi generasi yang percaya diri dan siap menghadapi masa depan,” katanya.
Selain perlombaan Islami, panitia juga menghadirkan qori dan qoriah lokal Fakfak serta qori dan qoriah internasional yang akan membacakan ayat suci Al-Qur’an dan melantunkan shalawat pada rangkaian kegiatan mulai 5 Agustus hingga malam puncak 8 Agustus 2026.
Masyarakat juga akan disuguhkan berbagai penampilan seni religi serta berkesempatan memperoleh hadiah menarik, termasuk 10 paket umrah gratis sesuai ketentuan panitia.
Menutup penyampaiannya, Wahidin kembali mengajak seluruh masyarakat untuk hadir dan menjadi bagian dari peristiwa bersejarah tersebut.
“Datanglah bersama keluarga. Mari kita tunjukkan kepada Indonesia bahwa Fakfak tetap menjadi rumah persaudaraan, tempat keberagaman dirawat dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Sejarah hanya akan dikenang oleh mereka yang hadir menjaganya. Persaudaraan tidak lahir dari kesamaan, tetapi dari kesediaan untuk saling menghormati dan berjalan bersama dalam keberagaman,” pungkasnya.






